Selasa, 19 Agustus 2025

PBB Catat 1.760 Warga Palestina Tewas Saat Cari Bantuan di Gaza Sejak Mei 2025

PBB Catat 1.760 Warga Palestina Tewas Saat Cari Bantuan di Gaza Sejak Mei 2025
Warga Gaza berebut bantuan dari truk di tengah krisis kemanusiaan 

Disrupsi.id, Medan - Situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) melaporkan sedikitnya 1.760 warga Palestina tewas sejak akhir Mei 2025 saat berusaha mendapatkan bantuan kemanusiaan di Gaza. Sebagian besar korban tewas akibat tembakan pasukan Israel di sekitar lokasi distribusi bantuan dan jalur konvoi.

Data menunjukkan 994 korban tewas di sekitar Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sementara 766 lainnya tewas di sepanjang jalur konvoi. Laporan terbaru menambahkan 12 korban baru pada Jumat, 15 Agustus 2025. Angka ini meningkat tajam dibandingkan catatan 1.373 korban pada 1 Agustus.

Kondisi semakin sulit di tengah serangan Israel yang masih berlangsung, termasuk pemboman di Kota Gaza yang menghambat proses evakuasi warga sipil. PBB menyebut situasi ini memperburuk krisis kelaparan buatan manusia, di mana sudah tercatat 239 kematian akibat malnutrisi. Hampir 1 dari 5 anak kecil di Kota Gaza kini menderita gizi buruk akut.

Sejumlah organisasi kemanusiaan seperti Amnesty International menuding Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata politik dengan cara memblokir distribusi bantuan, merusak fasilitas kesehatan, dan membatasi akses medis. Dokter di Gaza melaporkan kasus penembakan massal harian terhadap warga yang mengantri makanan, dengan banyak korban tertembak di kepala, dada, atau punggung. Rumah sakit kewalahan menangani lonjakan pasien di tengah keterbatasan obat-obatan.

Israel menolak tuduhan itu. Militer menyatakan tidak ada pembatasan terhadap bantuan kemanusiaan dan menegaskan operasi mereka ditujukan untuk melemahkan Hamas. Pemerintah Israel juga menyatakan tidak ada kelaparan di Gaza dan menyalahkan kelompok bersenjata Palestina atas kekacauan distribusi bantuan.

Namun, kritik datang dari organisasi bantuan internasional seperti NRC dan PBS yang mengecam Israel atas ancaman pelarangan lembaga kemanusiaan besar serta rencana pemindahan paksa warga ke Gaza selatan. Kebijakan ini dinilai berisiko memicu bencana kemanusiaan yang lebih luas.

PBB mendesak penghentian serangan terhadap lokasi bantuan dan membuka akses aman bagi pasokan kemanusiaan. Laporan ini mendapat sorotan luas dari media internasional seperti Al Jazeera, Times of Israel, dan NPR, serta ramai dibicarakan di platform X dengan sudut pandang beragam dari pro-Palestina, pro-Israel, hingga pihak netral. (pujo)

Label: